Kenapa Jurus Taekwondo Diubah Tahun 1972
Perubahan Jurus taekwondo di Tahun 1972


Konten postingan
Palgwe (팔괘 / 八卦) adalah sistem Poomsae Taekwondo yang terdiri dari 8 Poomsae: Palgwe Il Jang sampai Palgwe Pal Jang.
Kata Palgwe berasal dari konsep Eight Trigrams (Ba Gua) dalam filosofi Timur. Delapan trigram ini menggambarkan konsep-konsep alam seperti langit, bumi, api, air, angin, petir, gunung, dan danau.
Jadi secara konsep:
Palgwe 1-8, masing-masing berkaitan dengan salah satu dari 8 trigram.
Pada masa awal terbentuknya Taekwondo, di Korea masih terdiri dari berbagai Kwan dengan sejarah dan tradisi masing-masing. Kwan (관 / 館) dalam konteks sejarah Taekwondo itu gampangnya bisa dianggap sebagai “perguruan/sekolah” Taekwondo yang punya aliran, pendiri, dan identitas sendiri.
Sebelum Taekwondo menjadi sistem yang sangat terstandardisasi seperti sekarang, di Korea ada banyak Kwan yang mengajarkan bela diri dengan nama dan metode masing-masing.
Sebelum Taekwondo menjadi sistem yang sangat terstandardisasi seperti sekarang, di Korea ada banyak Kwan yang mengajarkan bela diri dengan nama dan metode masing-masing.
Contohnya:
Chung Do Kwan
Moo Duk Kwan
Song Moo Kwan
Ji Do Kwan
Chang Moo Kwan
Oh Do Kwan
Masing-masing punya sejarah dan pengaruh sendiri. Jadi waktu itu, Taekwondo belum seseragam yang kita kenal sekarang.
Oleh karena itu, Palgwe dibuat & dikembangkan pada 1965-1967 sebagai salah satu usaha membuat satu sistem
Standardisasi Awal Kurikulum Nasional
Identitas Budaya dan Filosofi Korea : Nama dan konsep Palgwe diambil dari delapan trigram kuno (I-Ching) yang melambangkan elemen alam (langit, bumi, api, air, dll.). Pola langkah dan filosofi setiap jurus Palgwe dirancang untuk mencerminkan karakteristik elemen-elemen tersebut.
Alat ukur kenaikan tingkat yang pertama dibuat
Berdirinya Kukkiwon
Asosiasi Taekwondo Korea (KTA) menginisiasi pembentukan Kukkiwon (awalnya dinamakan KTA Central Studio atau Dojang Pusat KTA) pada awal tahun 1970-an karena beberapa alasan krusial yang berfokus pada standardisasi dan globalisasi. Pada akhirnya diresmikan berdirinya Kukkiwon di tahun 1972 dengan tujuan:
Penyatuan Aliran (kwan) yang terpecah.
Standarisasi Sabuk Hitam (Poom/Dan): dimana sebelumnya sertifikasi diberikan tergantung masing-masing kwan.
Misi Globalisasi Taekwondo
Fungsi Kukkiwon terkait kurikulum, standarisasi, dan penerbitan lisensi di bidang Taekwondo.
Berubahnya Palgwe ke Poomsae
Saat jurus Palgwe diciptakan antara tahun 1965–1967, ada dua sekolah besar (Kwan) yang sangat berpengaruh di Korea, yaitu Ji Do Kwan dan Moo Duk Kwan, yang saat itu belum bergabung penuh atau tidak diwakili dalam komite perumusan Palgwe.
Ketika kedua sekolah raksasa tersebut akhirnya resmi bersatu di bawah KTA, demi menjaga rasa keadilan, persatuan, dan menghormati kontribusi semua pihak, diputuskanlah untuk membuat kurikulum baru dari nol. Perwakilan dari seluruh Kwan (termasuk Ji Do Kwan dan Moo Duk Kwan) akhirnya duduk bersama untuk menciptakan Taegeuk Poomsae
Selain itu, Pemerintah Korea Selatan pada masa itu sangat gencar melakukan de-Jepangisasi pasca-penjajahan. Jurus-jurus Palgwe didominasi oleh kuda-kuda rendah (Ap-koobi yang panjang), kaku, dan lebih berfokus pada teknik pukulan serta tangkisan tangan. Gerakan ini dinilai terlalu mirip dengan Kata dalam Karate Shotokan Jepang. Oleh karena itu, komite bentukan KTA merekayasa Taegeuk agar polanya benar-benar membentuk simbol Trigram (Gwe) yang ada pada bendera nasional Korea Selatan (Taegeukgi).
Taekwondo juga mulai dipersiapkan menjadi olahraga prestasi global dan mengincar panggung Olimpiade, para master menginginkan jurus yang mendukung karakter asli Taekwondo: dinamis dan kaya akan tendangan. Rangkaian Taegeuk dibuat dengan kuda-kuda yang lebih tegak/natural (Ap-seogi atau walking stance) dan memasukkan lebih banyak variasi tendangan untuk menjembatani latihan jurus dengan kebutuhan tanding (Kyorugi).
Oleh sebab itu, begitu Kukkiwon berdiri pada tahun 1972, badan tersebut secara resmi menetapkan Taegeuk sebagai Poomsae standar wajib untuk kenaikan tingkat sabuk berwarna seluruh dunia. Jurus Palgwe pun dinyatakan tidak lagi digunakan untuk ujian resmi Kukkiwon, meski beberapa dojang tua di dunia masih melestarikannya sebagai materi pelengkap sejarah.
